Pawai Ogoh Ogoh Desa Bondalem
Baru saja melewati perayaan Nyepi tahun Caka 1941, ada hal yang berbeda dari perayaan NYEPI sebelumnya. Dimana saat ini, merayakan NYEPI di desa dengan keadaan yang benar benar menyepi sehingga keriuhan yang biasa memenuhi telinga kini berpindah kedalam diri. 

Keriuhan ini bersiap meletup sekencang kencangnya, akibat terlalu lama terpendam karena sering diabaikan. Benar kata orang, terkadang kita takut dengan diri sendiri sehinga lebih meriuhkan kondisi di luar dan berusaha membisingkan diri agar suara diri tertutup dan kita tidak mendengar lagi riuhnya diri yang meronta untuk lebih dikenali dan diperhatikan.

Perjalanan kali ini kedalam diri sungguh sangat dramatis, ada berbagai kamuflase pikiran yang sengaja meronta ronta, ada juga suara suara ntah apa yang diminta. Berkecamuk saling menghakimi seperti perseteruan cebong dan kampret yang tidak pernah berhenti memenuhi beranda sosmed.

Ya mungkin hal ini yang ditakutkan kebanyakan orang, ketakutan akan kebenaran sang diri. Orang lebih senang memoles dirinya di insta story dari pada mencoba mendengar suara diri. Suara sang abadi yang menemani diri ini menjelajahi kehidupan duniawi.

Kalau saja kita mendengarkan suara sang diri, pastinya kita akan sadar betul kapan diri ini harus di belai dan kapan diri ini akan bekerja secara optimal melampau kehendak kita. Terkadang yang kita lakukan hanyalah kebahagiaan semu, kebahagiaan yang hanya enak dilihat di instagram namun tidak menyeluruh dirasakan seluruh bagian tubuh dan diri ini.

Coba renungkan sejenak apakah benar saya sudah bahagia secara menyeluruh? mulailah mendegarkan sang diri dan berterimakasihlah pada bagian bagian tubuh yang sudah bekerja keras membantu kita berproses dan bertumbuh menjadi pribadi yang luar bisa. 

Selamat Tahun Baru CAKA 1941 beristirahatlah sejenak untuk mengambil nafas dan menikmati keindahan ciptaNYA.