Perjalanan kali ini saya arahkan ke arah penghasil sayur dan buah strawberry di kabupaten buleleng tepatnya di wilayah Pancasari. Ya di wilayah ini suasana sangat sejuk, asri dan udaranya segar. Dibalik segarnya udara tidak mencerminkan segarnya senyuman petani sayur. Sangat bersedih mendengar keluh kesah petani yang berharap sayuran yang dihasilkan dapat terserap oleh pasar dengan harga wajar.

Harga tiga kilogram sayur pokcoy hanya dihargai lima ribu rupiah saja. bayangkan berapa tetes keringat dan pupuk yang dihabiskan agar bisa dipanen dan dinikmati oleh pembeli. Sangat miris nasib petani ditengah pandemik yang memporak porandakan bisnis pariwisata yang menjadi primadona yang selama ini di agung agungkan.

"Yan ngelah pis yan, silih jep kal anggo mayah wisuda panak e" begitulah percakapan yang saya dengar dari seorang petani sayur yang berharap dapat meminjam untuk keperluan wisuda anaknya. Saya pun bertanya pada bli wayan, bagaimana kondisi sebelum pandemik ini, ternyata bli wayan kalau tidak pandemik daya serap sayur ke industri pariwisata sangat kencang. Kalau dihitung sampai saat ini piutang sayur di villa, restauran dan hotel langganan bli wayan masih sekitar tiga ratusan juta yang tidak dapat tertagih alias hampir diputihkan.

Kondisi seperti sekarang dapat menjadi evaluasi untuk kedepannya bagaimana harusnya industri pertanian dapat dikemas secara lebih modern sehingga dapat lebih memberikan kesejahteraan pada petani sekaligus dapat menjadi ketahanan pangan sebuah wilayah.