Entahlah ini drama COVID tidak selesai-selesai dan video terkait elit elit global semakin mempengaruhi pola pikir, namun disisi lain korban juga mulai berjatuhan. Ini benar benar menguji mental, karena yang diserang adalah hak dasar, ya hak dasar kebebasan dimana ketakutan mengecam dan membingungkan memilih takut lapar apa takut covid.

Ah sudahlah, berusaha berpikir positif bukan berarti menganggap covid itu tidak ada, atau berusaha menganggap semua baik baik saja?. Tidak ini real dan nyata atau sebuah rekayasa? ntahlah dijaman yang kebanjiran informasi malah menjadi semakin sungsang, simpang siur antara hoak dan fakta.

Memang dalam perang mahabrata juga sudah ada peredaran berita hoax untuk menekan lawan, dengan menyebar berita kematian aswatama.


Nah terus untuk kita kita ini sebagai masyarakat yang butuh makan dan juga harus bekerja untuk membayar segala cicilan dan keperluan popok dan susu bayi harus menempatkan pikiran ini dimana?. Kalau berpikir positif tapi kenyataan tidak indah bukankah malah akan menjadi toxic, atau berpikir negatif yang berlebihan malah akan menguras energi kita sendiri sehingga kita lupa untuk hidup bahagia.

Ya sudahlah tetap ikuti PROKES, rajin cuci tangan dan jaga stress pikiran tetap tenang dan damai, bukan panik memborong vitamin c dan susu panda. Ingat cicilan harus tetap terbayarkan dan listrik air itu tidak gratis. Semangat jaga mood agar imun tetap manjur dan iman stabil.

Berdoa dan berusaha untuk tetap mengayuh sambil menjaga prokes dan mencari celah ditengah pandemi. Pelaut handal lahir dari terpaan badai. Bertahan atau terlibas pandemi?

Yakin selalu ada jalan untuk tetap bertumbuh. Salam Sehat Bahagia Sejahtera. Besok masih tetap harus makan bayar listrik air dan cicilan.